Gaming industry_Indonesian Baccarat_Live Baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0

MRoulette ChartenuruRoulette ChRoulette ChRoulette Chartartartt Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka adalah bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri, lepas dari tuntutan, tidak terikat atau tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa. Jadi ketika sesuatu hal sudah merdeka, maka ia memiliki hak untuk memilih apa yang menjadi tujuannya, tanpa adanya tuntutan dari pihak lain. Selain itu, merdeka berarti suatu hal tersebut sudah lepas dari ke-bergantungannya terhadap pihak lain.

Hey, tanpa dihujani dengan pertanyaan demikianpun, setiap pasangan suami-istri tentu sangat mendambakan buah hati. Mereka tidak diam, sudah mencoba beragai cara, dan mungkin juga sudah rutin mengunjungi dokter. Apa iya harus selalu laporan kalau mau ber-ikhtiar?

Mari kita simak poin-poin di bawah ini.

Lantas, sudahkah kita merdeka secara personal (pribadi ) seperti Indonesia?

Seringnya, tetangga yang kebanyakan emak-emak akan berkomentar tentang tumbuh kembang buah hati kita. Beliau-beliau ini mendadak menjadi lebih hebat dari ahli medis, serta menggurui dengan cara yang kadang menyakiti.

Masih kuliah ditanya kapan lulus. Sudah lulus ditanya kapan kerja. Sudah kerja ditanya kapan nikah.

Bicara soal merdeka, apa sih makna sebenarnya dari merdeka itu?

Siapa yang tidak bahagia ketika mendapatkan email yang berisi pemberitahuan tentang dirimu yang lulus masuk PTN/PTS favorit, atau email yang menyatakan bahwa dirimu diterima di sebuah perusahaan yang telah lama kamu incar? Pasti senang sekali kan?

Jika dirimu ada dalam posisi ini, lebih baik abaikan ucapan mereka. Mereka hanya bisa berkomentar di akhir dan kemudia menyakitimu seperti ini.

Yes, hidup adalah perjalanan. Kita tidak akan pernah lepas dari nyinyiran dan cibiran yang terkadang dibungkus dengan kalimat-kalimat manis seolah bernada empati. Jika kita berada dalam posisi ter-nyinyir, janganlah dianggap serius omongan semacam itu. Merdeka-kan diri dengan mengabaikannya. Jika kita sudah terbiasa menjadi tukang nyinyir, yuk hentikan kebiasaan itu mulai dari sekarang. Jangan pernah campuri urusan pribadi orang lain. Biarkan orang lain merdeka dengan pilihan-pilihan yang dibuat untuk kehidupannya. Merdeka!

Yap, ini realita. Banyak di antara kita yang dihakimi sedemikian rupa oleh orang-orang disekitarnya. Nyesek? Pasti! Dan inilah yang membuat beberapa orang akhirnya menikah dalam keadaan dan waktu yang belum sepenuhnya siap. Kemudian ada yang merasa tidak cocok, terjadilah pertengkaran, saling sindir dan mengeluh di status sosial media. Alhasil, para single semakin takut untuk menikah. Hehehe

Indonesia baru saja merayakan kemerdekaannya yang ke-73. Kita sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah selayaknya bersyukur atas kemerdekaan ini. Sesusah-susahnya hidup pada masa sekarang, tentu jauh lebih susah hidup pada masa kolonial dulu.

Pasti pernah kan mengalami keadaan ini? Ketika membeli gadget baru, kemudian banyak orang bertanya secara detail tentang spesifikasi, harga, dan nama toko saat kita membeli gadget.Namun endingnya, ketika kita menjawab semua pertanyaan mereka, ada beberapa celetukan misalnya, "mahal amat, padahal spesifikasinya cuma segitu,," atau "Coba belinya di toko X, pasti harganya lebih murah,, " atau "Padahal yang tipe ini speknya lebih bagus dan harganya lebih murah lhoo,," dan komentar-komentar mencibir lainnya.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Sebagian orang mungkin kebal ketika diperlakukan demikian. Namun tidak sedikit lho orang yang kemudian menjadi tersinggung. Tak bisakah kalian memuji sedikit saja? Tak bisakah kalian sekedar mengucapkan selamat? Atau daripada mencela, tak bisakah kalian lebih baik diam? Mencela tentang suatu barang yang baru dimiliki temanmu bukanlah ramah tamah atau seni dalam bersosialisasi. Sama sekali bukan.

Sayangnya, tidak semua orang akan merasa senang seperti dirimu. Ada saja komentar tentang "kok milih PT ini sih,," , "Kok malah ambil jurusan ini sih," atau "yakin, mau kerja disitu?"

Masih lanjutan tentang kehidupan yang tidak akan pernah terbebas dari kenyinyiran, selepas menikah kita terkadang dibuat pusing tentang pertanyaan "sudah isi belum?" atau pernyataan "si X yang menikah empat bulan setelahmu udah isi lhoo,, kamu gimana?"

Lagipula urusan anak adalah kuasa Tuhan. Tugas pasutri tersebut hanyalah berusaha. Sementara kita pihak luar, dapat pula memberi saran yang membangun atau membesarkan hati mereka. Bukan malah memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan.